Operasi Caesar Menurut Islam, Halal atau Haram?

Operasi caesar menurut islam | Islam adalah agama yang mengatur semua lini kehidupan kita, dari tidur sampai tidur kembali, semuanya ada tuntunannya, itulah mengapa islam menjadi ajaran yang paling sempurna di muka bumi ini.

Tidak terkecuali dengan proses persalinan caesar, para ulama sudah mengambil keputusan berdasarkan kaedah dalil dalil dari AL Quran dan Sunah untuk masalah persalinan sesar ini.

Melahirkan adalah perkara besar yang harus di lalui oleh seorang ibu, dan proses melahirkan ini akan mendatangkan pahala yang besar bagi ibu yang menjalaninya.

Untuk melahirkan normal, sudah pasti hukumnya halal dan akan mendatangkan pahala, seperti penjelasan di atas. Lalu bagaimana hukum operasi caesar menurut agama islam?

Operasi Caesar Menurut Pandangan Islam

operasi caesar menurut islam

Ulama menerangkan tentang hukum operasi caesar menurut islam, yaitu bisa haram dan juga bisa haram. Berikut penjelasannya:

Operasi caesar menurut pandangan islam menjadi haram jika:

Tidak ada alasan syar’i atau tidak ada alasan yang mengharuskan seorang ibu untuk melakukan persalinan caesar dengan kata lain hanya keinginan dari ibu saja untuk melahirkan caesar.

Beberapa alasan dari ibu yang memilih melahirkan caesar, dan alasan ini tidak di benarkan menurut pandangan islam:

  • Menghindari rasa sakit jika melahirkan normal
  • Memilih tanggal dan hari persalinan yang di inginkannya
  • Menjaga agar organ wanitannya tetap dalam keadaan kencang

Alasan di atas bukan menjadi keharusan untuk di lakukannya operasi caesar menurut agama islam, jika ibu melakukan operasi caesar dengan alasan tersebut maka hukumnya haram.

Operasi caesar menurut islam menjadi halal atau boleh jika:

Ada alasan medis atau indikasi medis dari dokter yang memeriksa kehamilan ibu, bahwa ibu tidak bisa melahirkan secara normal, jika tetap memaksa melahirkan normal maka akan terjadi hal yang tidak di inginkan.

  • Seperti bayi yang akan di lahirkan berisiko mengalami kematian
  • Ada kemungkinan besar ibu meninggal dunia jika melahirkan normal
  • Akan adanya cacat pada bayi yang akan di lahirkan jika melahirkan normal

Jika alasan ibu untuk melahirkan caesar seperti di atas, maka hukum melahirkan caesar menurut pandangan islam menjadi halal.

Banyak alasan mengapa ibu harus melakukan operasi caesar, atau indikasi medisnya, yaitu:

  • Bayi yang akan di lahirkan posisinya tidak berada pada jalan lahir, istilahnya bayi sungsang. Dalam kondisi ini ibu akan sulit untuk melahirkan normal, jika memaksa maka akan berisiko menyebabkan kematian untuk ibu atau bayinya.
  • Ibu mempunyai penyakit tekanan darah tinggi, jika melahirkan normal maka ibu kemungkinan besar akan meninggal dunia.
  • Ari-ari melilit bagian tubuh bayi, setelah di lakukan USG dan terlihat ari ari melilit tubuh bayi, maka operasi caesar adalah pilihan satu satunya untuk melahirkan.

Dan masih banyak lagi inidikasi medis yang mengharuskan untuk di lakukannya persalianan dengan pembedahan caesar, untuk jelasnya bisa ibu tanyakan kepada dokter yang memeriksa kehamilan ibu.

Kesimpulan dari hukum operasi caesar menurut islam menjadi 2, bisa halal dan bisa haram

  1. Halal jika ada indikasi medis atau alasan kuat untuk di lakukannya operasi caesar.
  2. Haram jika atas kehendaknya sendiri atau tidak ada indikasi medis yang mengharuskan untuk operasi caesar.

Tuisan di atas saya tulis secara garis besarnya saja, untuk pendalilan mengapa operasi caesar menurut islam menjadi halal dan haram, berikut rinciannya.

Dalil – Dalil Halal atau Haram Operasi Caesar Dalam Pandangan Islam

Hukum operasi cesar menurut islam bisa dilihat dari sisi kepentingan ibu hamil atau janin yang di kandungnya, dan hukum ini di bagi menjadi tiga yaitu:

Pertama: Dalam Keadaan Darurat.

Yang di maksud definisi dalam keadaan darurat dalam operasi cesar yaitu adanya kekhawatiran akan terancamnya jiwa ibu atau bayi yang akan di lahirkan, atau bisa juga mengancam kedua-duanya secara bersamaan.

1. Operasi Cesar untuk menyelamatkan nyawa ibu

Contohnya adalah jika ibu mengalami eklampsia atau kejang dalam masa kehamilan, mempunyai riwayat penyakit jantung, persalinan yang tiba-tiba tidak lancar, terjadi pendarahan selama kehamilan, ada infeksi dalam rahim, dan dinding rahim menipis akibat dari sebelumnya melakukan operasi sesar atau operasi pada rahim akibat kista.

2. Operasi Cesar untuk menyelamatkan nyawa bayi yang akan di lahirkan

Kondisi ini terjadi jika qodarallah ibu sudah meninggal dunia, tapi bayi yang berada di dalama perutnya masih dalam keadaan bernyawa atau hidup.

Jika keadaanya seperti ini, bagaimana hukumnya? apakah boleh membedah perut ibu? Dalam masalah ini uara ulama berbeda pendapat, yaitu:

Pendapat Pertama: Dibolehkan untuk dilakukan tindakan operasi caesar, agar bayi yang di kandung bisa dikeluarkan. Ini merupakan pendapat dari Imam Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan, Madzhab Syafi’iyah, dan Dhahiriyah, serta dipilih oleh beberapa ulama dari Malikiyah dan Hanabilah.

Pendapat Kedua: Tidak dibolehkan dilakukan operasi dengan membedah perut ibunya. Ini adalah pendapat Malikiyah dan Hanabilah. Mereka berdalil dengan dalil-dali sebagai berikut:

Dalil pertama : Hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya ia berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

“Memecahkan tulang mayit seperti memecahkannya ketika masih hidup. ” ( HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dalil kedua : Bahwa janin yang masih hidup dalam perut ibunya yang sudah mati tersebut, sering kali tidak akan tertolong. Walalupun sudah di lakukan operasi caesar dan janin berhasil selamat, biasanya hidupnya tidak akan lama. Oleh sebab itu, tidak di benarkan melakukan kerusakan yang pasti hanya untuk sekedar mengejar sesuatu yang belum tentu bisa diselamatkan.

3. Operasi Cesar untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi secara bersamaan

Contohnya ketika air ketuban pecah, namun belum juga ada kontraksi sebagai tanda akan melahirkan, bayi terlilit tali pusar sehingga tidak dapat keluar secara normal, bayi sungsang, usia bayi prematur, dan lain sebagainya.

Dalam 3 kondisi seperti di atas, menurut pendapat yang insya ALLAH mendekati kebenaran adalah dibolehkan dilakukannya pembedahan cesar untuk menyelamatkan nyawa ibu dan anak . Dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama : Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“ Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. ” ( Qs Al Maidah : 32 )

Dalam ayat ini, Allah Subhanahuataala memuji setiap orang yang memelihara kehidupan manusia, termasuk di dalamnya adalah orang yang menyelamatkan ibu dan bayi dari kematian dengan melakukan pembedahan pada perut atau pembedahan sesar.

Ibnu Hazm berkata : “ Jika seorang ibu yang hamil meninggal dunia, sedangkan bayinya masih hidup dan bergerak dan sudah berumur enam bulan, maka dilakukan pembedaan perutnya dengan memanjang untuk mengeluarkan bayi tersebut, ini berdasarkan firman Allah ( Qs. 5 : 32 ), dan barang siapa membiarkannya bayi tersebut di dalam sampai mati, maka orang tersebut dikatagorikan pembunuh. “

Kedua : Kaidah Fiqhiyah yang berbunyi :

الضرر يزال

“ Suatu bahaya itu harus dihilangkan “

Ketiga : Kaidah Fiqhiyah yang berbunyi :

إذَا تَعَارَضَ مَفْسَدَتَانِ رُوعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

“ Jika terjadi pertentangan antara dua kerusakan, maka diambil yang paling ringan kerusakannya “

Keterangan dari kaidah di atas adalah bahwa operasi cesar dalam keadaan darurat terdapat dua kerusakan, yang pertama adalah terancamnya jiwa ibu atau anak, sedangkan kerusakan yang kedua adalah dibedahnya perut ibu.

Dari dua kerusakan tersebut, maka yang paling ringan adalah dibedahnya perut ibu, maka tindakan ini diambil untuk menghindari kerusakan yang lebih besar, yaitu terancamnya nyawa ibu dan anak.

Berkata Syekh Abdurrahman as- Sa’di : “ Dan dibolehkan melukai badan, seperti membedah perut, untuk mengobati penyakit. Jika manfaatnya lebih banyak dari pada mafsadahnya, maka Allah tidak mengharamkannya. Hal semacam ini telah disinggung oleh Allah di beberapa tempat dari kitab-Nya, diantaranya adalah firman-Nya :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“ Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. “ ( Qs al-Baqarah : 219 )

Kedua Dalam Keadaan Hajiyat

Keadaan Hajiyat dalam operasi Cesar adalah adanya kekhawatiran terjadinya bahaya atau sesuatu yang tidak baik, seperti cacat permanen atau hal lainnya, yang akan menimpa ibu, atau bayi, atau kedua-duanya secara bersamaan.

Tetapi bahaya ini tidak sampai pada terancamnya jiwa ibu atau bayi yang di kandungnya. Seperti halnya jika lingkar rongga panggul yang lebih kecil dari ukuran janin, sehingga akan kesulitan ketika melahirkan secara alami, usia ibu yang terlalu tua, kelainan letak plasenta, ukuran bayi terlalu besar atau terjadi bayi kembar.

Dalam keadaan hajiyat ini, operasi cesar boleh dilakukan, karena hajiyat kadang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga sebagian ulama menyamakan kedudukannya dengan darurat. Oleh karenanya, mereka meletakkan kaidah fiqhiyat sebagai berikut :

الْحَاجَةُ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُورَةِ ، عَامَّةً كَانَتْ أَوْ خَاصَّةً

“ Kebutuhan itu disamakan dengan kedudukan darurat, baik yang bersifat umum, maupun khusus. “

Ketiga : Dalam Keadaan Tahsiniyat

Keadaan ke tiga ini adalah keadaan yang haram jika ibu melahirkan caesar, yaitu tidak ada alasan sar’i atau indikasi medisnya, ini murni keinginan dari ibu sendiri.

Dalil terlarangnya melakukan operasi caesar tanpa alasan syar’i adalah karena melahirkan caesar lebih banyak bahayanya dari manfaatnya dan seorang ibu akan menafikan keutamaan melahirkan normal atau alami yaitu:

  • Rasa sakit saat melahirkan normal akan menggugurkan dosa-dosanya
  • Akan mengangkat derajatnya jika ia sabar dan mengharapkan pahala di sisi Allah
  • Seorang wanita akan menyadari kedudukan seorang ibu, yang mana seorang ibu merasakan sebagaimana yang ia rasakan
  • Akan lebih merasakan nikmat kesehatan yang sudah ALLAH berikan kepadanya
  • Seorang ibu jika pernah operasi cesar maka biasanya tidak akan bisa kembali melakukan persalinan normal.
  • Keturunan akan sedikit, karena operasi caesar hanya bisa di lakukan sebanyak 3 kali, jika lebih dari itu akan berisiko untuk keselamatan ibu.

Jadi kesimpulan lanjutan yang perlu di perhatikan adalah, pilih persalinan secara alami atau normal melalui jalan lahir yang sudah di takdirkan.

Jika memang ada indikasi medis yang menyebabkan tidak bisa melahirkan secara normal, maka lakukanlah persalinan secara caesar, dan jika alasannya syar’i maka ibu juga akan mendapatkan pahala seperti yang di sebutkan di atas. WALLAHUALAM.

Dikutip dari: https://muslim.or.id/27916-boleh-operasi-caesar-dengan-adanya-indikasi-medis.html

Baca juga:

  • Masa nifas operasi caesar menurut islam
  • Berhubungan intim setelah operasi caesar menurut agama islam
About Dedeh Mardiani S.Tr.Keb

Bergerak di bidang kesehatan lingkungan, kebidanan, kehamilan dan konsultasi tentang operasi caesar.
Saat ini sedang study pada fakultas kesehatan di Stikes Falatehan dalam bidang Kesehatan dan Lingkungan.

Speak Your Mind

*